12 Juli, 2009

Rumah Kubah


(Foto oleh Dwi Oblo untuk Reuters)


Pernah lihat foto diatas? Itu adalah 70 rumah kubah di desa Sumberharjo dekat Yogyakarta, yang dibangun oleh "Kubah untuk Dunia" (Domes for the World) yang berbasis di Amerika Serikat, sebagai bantuan untuk penduduk yang kehilangan rumahnya pada bencana gempa bumi tahun 2007 yang lalu.










(Foto-foto dari www.dftw.org)


11 Juli, 2009

Disini Buaya disitu Cicak

Saat ini Cicak sedang naik daun, diperbagai blog dan milis beredar kisah Cicak lawan Buaya, bahkan kabarnya akan dibentuk gerakan CICAK (Cintai Indonesia CintAi KPK).

Kegaduhan ini bermula dari wawancara Kepala Badan Reserse dan Kriminal Markas Besar Kepolisian RI, Komisaris Jenderal Polisi Susno Duadji yang dimuat dalam Majalah Tempo edisi 6-12 Juli 2009 tentang penyadapan hape pak Susno berkaitan dengan kasus Bank Century.

Susno mengatakan dirinya sudah tahu tentang penyadapan itu, sehingga ia justru sengaja mempermainkan para penyadap dengan cara berbicara sesuka hati.

Mengenai KPK, beliau mengaku sebagai anggota tim perancang undang-undang (KPK). 125 personel yang melakukan penangkapan dan penyelidikan (di KPK) juga personel polisi, sehingga mengenai rumor dirinya akan disergap tim KPK karena terkait kasus Bank Century, beliau menganggap sebagai hal yang terlalu dibesar-besarkan. "Mau disergap, timbul pertanyaan siapa yang mau menyergap. Mereka kan anak buah saya. Mana berani nangkap?" katanya.

Diakhir wawancara, menjawab pertanyaan kenapa ada pihak yang berprasangka negatif kepada beliau, Susno menjawab "Karena kedudukan ini (Kabareskrim) memang strategis. Tetapi saya menyesal, kok masih ada orang yang goblok. Gimana tidak goblok, sesuatu yang tidak mungkin bisa ia kerjakan kok dicari-cari. Jika dibandingkan, ibaratnya, di sini buaya di situ cicak. Cicak kok melawan buaya. Apakah buaya marah? Enggak, cuma menyesal. Cicaknya masih bodoh saja. Kita itu yang meminterkan, tapi kok sekian tahun nggak pinter-pinter. Dikasih kekuasaan kok malah mencari sesuatu yang nggak akan dapat apa-apa."

Meskipun kemudian pak Susno membantah bahwa ungkapan Cicak dan Buaya ditujukan pada institusi tertentu, publik menilai, dari konteks pembicaraan, yang diumpamakan Cicak adalah KPK sedang Buayanya adalah Mabes Polri.

Ehem...

KPK memang sedang digempur. Bermula dari penahanan ketuanya dengan tuduhan pembunuhan yang kasusnya sampai saat ini tak kunjung jelas, malah melebar kemana-mana. Kemudian, meskipun kelihatannya KPK sudah mandul sepeninggal pak Antasari Azhar yang terkenal galak, serangan demi serangan pamungkas dilancarkan.

Beberapa hari setelah penahanannya, berbagai pihak mendesak agar presiden segera mengeluarkan SK pemberhentian sementara Antasari, tidak usah menunggu dinyatakan bersalah oleh pengadilan.

DPR mempertanyakan legalitas pimpinan KPK yang sekarang dipegang secara kolektif serta kewenangannya untuk beroperasi.

Dalam kunjungannya ke kantor redaksi Kompas pada Rabu 24 Juni 2009, Pak SBY dikutip mengatakan "Terkait KPK, saya wanti-wanti benar. Power must not go unchecked. KPK ini sudah powerholder yang luar biasa. Pertanggung-jawabannya hanya kepada Allah. Hati-hati." SBY kemudian menerangkan bahwa pernyataannya tidak dalam konteks melemahkan, mengurangi otoritas atau mengebiri KPK. Pernyataannya hanya mengingatkan KPK agar mawas diri karena telah menjelma menjadi lembaga superbody. Konteksnya berlaku bagi semua lembaga negara. SBY hanya ingin seluruh penegak hukum mengikuti aturan hukum serta kewenangan yang ada. Jangan sampai tindakan petugas justru membuat takut seluruh pihak.

Membuat takut, climate of fear, itu yang memang dulu sengaja diciptakan oleh Antasari, menurutnya penangkapan para koruptor telah mengembalikan banyak uang negara, tapi mencegah keinginan untuk korupsi akan menyelamatkan uang negara yang tak ternilai jumlahnya. "Now everyone says the KPK is scary. Well, let it be like that. We cannot have obedience without creating a climate of fear." (Sekarang semua bilang KPK menakutkan. Baik, biar saja begitu. Tidak akan ada kepatuhan tanpa adanya rasa takut.) katanya menjelaskan.

Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) menarik personilnya di KPK dan mendadak berminat melakukan audit terhadap Sekretariat Jenderal KPK. ”Kami juga akan mengaudit proses penyadapan di sini,” kata Kepala BPKP, Komisaris Jenderal (Polisi) Didi Widayadi. BPKP mengaku audit yang dilakukan kepada KPK atas perintah dari Presiden, yang dibantah keras oleh pak SBY. "Ada perintah langsung, tapi perintah langsung pimpinan tidak harus selalu tertulis, tapi kita bisa isyaratkan early warning wanti-wanti itu, sebagai pembantu presiden kita sudah anggap itu sebagai perintah," kata pak Didi Widayadi.

Baru-baru ini polisi memeriksa Wakil Ketua KPK Chandra Hamzah lantaran disebut-sebut melakukan penyadapan ilegal. Pak Chandra diperiksa penyelidik Kepolisian Daerah Metro Jaya berkaitan dengan perkara pemimpin KPK, Antasari Azhar. Chandra adalah penandatangan perintah penyadapan lima nomor telpon oleh ahli IT KPK, salah satunya, menurut penyidik Polda Metro Jaya, adalah milik Rani Juliani yang bukan pengusaha, bukan pegawai negeri, bukan juga rekanan dari perusahaan, jadi tidak ada hubungannya dengan korupsi.

Kemudian ada isu miring bahwa Pak Antasari berupaya melakukan negosiasi dengan polisi dan jaksa dengan tujuan supaya hukumannya diperingan. Antasari menyatakan memiliki sejumlah bukti adanya jual-beli perkara di KPK yang melibatkan koleganya di sana, antara lain, rekaman suara perbincangan Antasari dengan seorang pengusaha rekanan pemerintah yang mengaku pernah dimintai uang oleh salah satu pemimpin KPK. Meskipun nantinya terbukti tidak benar, setidak-tidaknya saat ini gosip itu telah memecah belah para petinggi KPK, mereka jadi saling curiga satu sama lain.

Yang terakhir bisa dilihat dari belum adanya tanda-tanda DPR menyelesaikan Rancangan Undang-Undang Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor). Jika pada Desember nanti, menurut tenggat yang diberikan Mahkamah Konstitusi, RUU tersebut tidak selesai, dapat dipastikan KPK akan lumpuh.

Padahal draft Rancangan Undang-Undang itu sendiri kabarnya berisi pasal-pasal yang memutilasi kewenangan KPK. Kalau lolos pun, nantinya KPK hanya berhak melakukan penyelidikan, sedang penangkapan, penahanan dan penuntutan dilakukan institusi-institusi lain. Memang banyak pihak yang menilai KPK kurang santun. Dalam hal penangkapan, misalnya, KPK melakukannya begitu mendadak. Targetnya tidak diberi kesempatan untuk, misalnya, bepergian terlebih dulu.

Mungkin serangan bertubi-tubi itu sebetulnya tidak perlu, karena menurut pak Susno menggembosi KPK itu gampang. Tarik semua personel polisi dan jaksa, lalu Komisi III DPR nggak usah beri anggaran. Nanti sore juga bisa gembos.

Atau, bisa saja maksudnya supaya kelihatannya KPK mati karena sakit, bukan karena dibunuh. Saya sendiri, sebagai seorang pesimistis, menilai bahwa tanpa pak Antasari KPK sebetulnya hanya semacam dekorasi saja. Sebelum dan sesudah Antasari tidak ada gebrakan KPK yang membuat rakyat terkaget-kaget-senang. Namun saya juga bisa memaklumi kekhawatiran para koruptor, kalau wadahnya masih ada bagaimana kalau nanti tiba-tiba muncul Antasari baru?

06 Juli, 2009

Land Rover S1

Handphone GSM Super Bandel



Sepintas hape difoto sebelah mirip mainan anak-anak untuk main perang-perangan atau walkie-talkie yang biasa dibawa satpam. Tapi yang satu ini adalah Land Rover S1, produksi Land Rover, yang terkenal dengan kendaraan SUVnya, berkolaborasi dengan Sonim, pembuat handset bandel.

Seperti halnya Kendaraan bermerek Land Rover, handphone ini juga dibuat untuk kondisi ekstrim. Land Rover S1 bersertifikat IP-67 (International Protection certificate), sertifikat ketahanan peralatan yang menjamin: tahan debu dan mikro partikel, tahan direndam dalam air sampai kedalaman 1 meter selama 30 menit, tahan dijatuhkan kepermukaan keras dari ketinggian 2 meter, tahan goncangan sampai 2000 getaran acak dalam kisaran 500Hz, tahan benturan sampai 75kg/cm2, tahan ditindih sampai berat 400 kg dan tahan cuaca ekstrim, dapat beroperasi pada suhu -20° sampai 55° C, bisa dibawa kekutub, meliput vulkano aktif atau untuk petugas pemadam kebakaran.

Untuk membuktikannya Land Rover menggelar demo, hape ini dilindas dengan Land Rover, diikatkan keroda Land Rover yang dikendarai dijalan renjul, dijatuhkan dari jendela lantai dua, diinjak gajah, dibenamkan kekubangan lumpur, dipanggang dalam oven dengan suhu 300° C dan dicemplungkan kedalam segelas bir. Tapi ponsel ini akhirnya gepeng setelah dilindas dengan forklift seberat 3 ton.

Ponsel ini dibuat untuk pekerja proyek yang mengoperasikan alat-alat berat, petualang dan pengendara off-roader. Dinding sampingnya yang bergerigi dan tombol keypadnya yang besar memudahkan pengoperasian oleh mereka yang berjari besar atau menggunakan sarung tangan. Deringnya yang sangat keras dapat mengalahkan bisingnya suara alat berat, kendaraan ditengah lalulintas yang padat atau ditengah-tengah demo mahasiswa, kampanye pemilu maupun pertandingan sepak bola. Tapi kalau berbunyi di ruang rapat, pasar atau supermarket tentunya akan bikin kaget orang banyak.

Land Rover S1 memakai batere super, waktu bicaranya sampai 18 jam sedang waktu siaganya mencapai 1500 jam (62 hari). Perlengkapan lain diantaranya:
o GPS
o Senter
o Kamera tahan-air 2 MP dengan blits
o Radio FM
o Memory Slot 2 GB
o Java J2ME
o WAP browser Opera Mini
o Bluetooth
o Garansi 3 tahun, tanpa syarat

Di Inggris Land Rover S1 dipasarkan mendompleng gerai O2 dan Vodavone seharga £ 300 atau sekitar lima juta rupiah. Handphone ini mungkin cocok dengan SUV berhidung panjang: Land Rover Long Nose yang didesain oleh Bell Aurens, seperti dapat dilihat pada foto dibawah ini. Di Amerika kendaraan ini dijual dengan harga $ 158.000 atau sekitar 1,6 miliar rupiah.



02 Juni, 2009

Kerokan

Orangtua selalu menyarankan jika kita masuk angin, maka kita harus kerokan agar angin di tubuh kita segera keluar. Lalu dengan bermodalkan sekeping uang logam plus balsem, punggung kita dikerok hingga menimbulkan guratan merah. Semakin merah guratan, artinya banyak angin yang telah masuk dan diusir dengan kerokan tadi. Benarkah prinsip tersebut?

Kerokan tak hanya populer di Indonesia. Vietnam menyebut kerokan sebagai Cao Gio, sementara di China dikenal dengan sebutan Gua Sha. Bedanya, orang China memakai batu giok sebagai alat pengerok, bukan kepingan uang logam.

Faktanya, warna merah yang dihasilkan dari kerokan merupakan pertanda pembuluh darah halus (kapiler) di bawah permukaan kulit pecah sehingga terlihat sebagai jejak merah di tempat yang dikerok. Efeknya, pembuluh darah kulit yang semula menguncup akibat terpapar dingin atau kurang gerak menjadi melebar sehingga darah kembali mengalir deras.

Penambahan arus darah ke permukaan kulit ini meningkatkan mekanisme pertahanan tubuh terhadap serangan virus. Selain itu, kerokan akan membuat penderita masuk angin merasa nyaman karena saat kerokan tubuh telah melepas hormon endorfin yang mengurangi salah satu gejala masuk angin, yaitu nyeri otot.

Asalkan tidak menjadi kebutuhan primer, kerokan tidak berbahaya. Namun, jika terus-terusan kerokan, bisa mengakibatkan banyak pembuluh darah kecil dan halus pecah. Tak hanya itu, kerokan juga bisa menimbulkan kecanduan karena efek hormon endorfin yang dikeluarkan tadi.
Epung Saepudin, KOMPAS.com — Selasa, 2 Juni 2009

08 Mei, 2009

Antasari

Awal Bulan Mei ini sebuah berita menggelegar berkumandang, Antasari Azhar (56), Ketua KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) dikabarkan sebagai dalang pembunuhan Nasrudin Zulkarnaen (50), Direktur Putra Rajawali Banjaran pada pertengahan bulan Maret yang lalu. Kejaksaan menyatakan Antasari sebagai tersangka dan mengeluarkan perintah pencekalan. Kepolisian mengirim surat panggilan untuk diperiksa sebagai saksi. Antasari mengadakan rapat dengan para pimpinan KPK dirumahnya, dimana ia menon-aktifkan dirinya dan menyerahkan kepemimpinan KPK kepada pimpinan KPK lainnya secara kolektif. Presiden SBY dalam jumpa pers di Jimbaran, Bali, Minggu 3 Mei, menyatakan bahwa: "Ini adalah kejahatan yang serius, kita sepakat bahwa hukum dan keadilan harus ditegakkan, negara kita adalah negara hukum, tidak ada di negeri yang kebal hukum, apalagi kasusnya tidak berkaitan dengan jabatan sebagai Ketua KPK."

Setelah pemeriksaan pada tanggal 4 Mei --- yang menurut para pengacara yang mendampingi Antasari baru berputar sekitar identitas, belum masuk materi perkara, polisi meningkatkan status Antasari sebagai tersangka dan menahannya. Semua stasiun televisi menyiarkan gambar Antasari --- yang biasanya berpakaian necis lengkap dengan dasi dan jas, mengenakan seragam tahanan, kemeja lengan pendek oranye bertuliskan Tahanan Nomor 058 dipunggungnya dan celana kolor pendek. Pemandangan yang belum pernah kita lihat dalam kasus-kasus high profile lainnya.

Media cetak maupun elektronik rame-rame memberitakan kasus yang menghebohkan ini, yang meskipun lebih banyak berdasarkan gosip tapi disajikan seakan-akan fakta, dilengkapi dengan skema, animasi atau storyboard. Menurut mereka, semua bermula dari asmara segitiga. Rani (23), seorang caddy belia yang telah dinikahi siri oleh Nasrudin, diganggu Antasari. Nasrudin marah dan mengancam untuk membukanya ke media. Antasari balik mengancam lewat SMS, "Permasalahan ini hanya kita saja yang tahu. Kalau sampai terbongkar, Anda tahu konsekuensinya," kemudian menyiapkan uang sebesar Rp10 miliar guna menyewa pembunuh bayaran untuk menghabisi Nasrudin. Skenario yang cukup valid kalau diukur dengan cerita-cerita sinetron. Tapi mungkin saja benar kalau mengacu pada akhir dari pernyataan pak SBY diatas: "... kasusnya tidak berkaitan dengan jabatan sebagai Ketua KPK."

Masih ada versi lain, Edwin Partogi dari Divisi Advokasi Politik, Hukum dan Keamanan Kontras dan seorang penegak hukum yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan bahwa masalah perempuan sebenarnya hanya efek samping, sedang isu utamanya adalah persoalan korupsi.

Entah mana yang benar. Yang jelas para terpidana korupsi yang dijebloskan KPK kepenjara umumnya menyambut gembira peristiwa aneh ini dan menyebutnya sebagai karma, seorang penjaga mangatakan, mereka makannya jadi banyak. Para koruptor yang belum ditahan dan mereka yang punya peluang untuk melakukan korupsi tentu dapat merayakannya dengan lebih leluasa, ceria dan meriah.

Wajar, karena sejak pengangkatan Antasari sebagai ketua, KPK bak kucing kelaparan dilempar ke lumbung yang penuh tikus, tubruk sana tubruk sini tanpa basa-basi, targetnya tidak lagi cuma pengusaha, tapi juga pejabat, dari anggota DPR, Jaksa tinggi sampai kerabat petinggi negara. Sampai-sampai ada suara yang mengeluhkan kerakusan KPK, karena menyebabkan para pejabat jadi khawatir untuk melaksanakan pembangunan... seakan-akan pembangunan hanya bisa berjalan kalau disertai dengan KKN dan gratifikasi.

Yang diluar dugaan adalah reaksi dari lembaga-lembaga yang sepertinya sejalan dengan KPK. Kalau serombongan orang berjalan bersama dan salah seorang diantaranya jatuh tersandung, kelihatan aneh kalau yang lain cuek atau malah menertawakan. Tapi itulah yang kelihatannya terjadi dalam kasus Antasari, setidak-tidaknya kesannya begitu. Konferensi pers pimpinan KPK tentang penonaktifan Antasari yang ditayangkan TV, dipenuhi canda dan tawa. Dalam sidang Mahkamah Konstitusi, Antasari dijadikan dagelan. Dari Kejaksaan Agung, Jasman Panjaitan, juru bicara kejaksaan mengatakan, bahwa Kejaksaan Agung sebagai institusi kini tak memiliki lagi hubungan dengan Antasari --- dia hanya bekas jaksa. Febri Diansyah, anggota Badan Pekerja Indonesia Corruption Watch (ICW), mengatakan bahwa KPK justru makin bersih tanpa Antasari Azhar, kinerjanya akan lebih baik. KPK berhasil bukan karena Antasari, justru Antasari yang jadi penghalang untuk kasus besar. Senada dengan Febri, Teten Masduki, Sekretaris Jenderal International Transparancy, juga menepis peran Antasari dalam keberhasilan KPK. --- Saya meragukannya, diperlukan keberanian dan komitmen maksimum untuk melakukan apa yang dilakukan Antasari di KPK, taruhannya nyawa. Apalagi setelah apa yang terjadi pada Antasari sekarang ini, gaung ancamannya menjadi semakin miris.

Buat kebanyakan rakyat awam, seperti saya, Antasari bak dewa yang sedang mencabuti parasit yang menghisap sumber daya negeri ini yang menyebarkan kemiskinan dan kebodohan ditengah kekayaan alam yang berlimpah. Antasari telah memberikan secercah harapan, bahwa suatu saat nanti Indonesia akan menjadi negara yang jaya dan bermatabat.