13 Oktober, 2004

Tomat

Tomat, Apel Cinta Kaya Manfaat

Meski wujudnya buah, tomat kadang-kadang dikelompokkan ke dalam sayuran.
Menurut legenda, pohon tomat dulunya hanya tumbuh ditebing-tebing tinggi di Grand Canyon. Hanya ksatria Indian yang trampil yang dapat memetiknya, sehingga hanya orang-orang terpilih yang beruntung dapat menikmatinya

Di Prancis tomat dijuluki Pomme d’Amour alias apel cinta, karena tomat dipercaya mampu memulihkan lemah syahwat. Entah benar atau tidak, yang pasti, buah bulat ini menyimpan banyak keistimewaan. Selain sebagai bahan makanan, ia juga menyehatkan badan, mengobati macam-macam penyakit, bahkan berfungsi sebagai kosmetik.

Dalam rubrik konsultasi sebuah majalah kesehatan, seorang remaja mengaku, tomat mengatasi masalah jerawatnya yang sudah menahun. Caranya, tomat yang telah masak dipotong-potong lalu digosokkan secara perlahan pada wajah yang berjerawat. Setiap hari ia rajin melakukan perawatan dengan cara tersebut, sebulan kemudian wajahnya sudah bebas dari jerawat. Ternyata, kandungan tomatine pada tomat berkhasiat anti-radang. Tomat juga mengandung karoten dan vitamin C yang berkhasiat sebagai antioksidan. Sementara asam sitratnya juga mengangkat kotoran dan lemak pada wajah berjerawat.

MEDIKASI MODERN

Dr. John Cook Bennet, Dekan Fakultas Kedokteran Willoughby University di Ohio, adalah yang pertama kali mengangkat martabat tomat. Pada bulan November 1834 Bennet mengungkapkan bahwa, "Tomat bisa mengobati diare, serangan empedu, dyspepsia (gangguan pencernaan), dan mencegah kolera. Minum jus tomat juga mampu memulihkan fungsi lever." Selang 120 tahun kemudian, Yumi Tohuoka melalui penelitiannya menunjukkan dukungannya terhadap Bennet. Dalam The Tohoku Journal of Experimental Medicine terbitan Tohoku University di Jepang, Tohuoka menyatakan, jus tomat secara klinis memang efektif untuk menyeimbangkan gangguan lever. Demikian pula John Heinerman, seorang peneliti medis yang berkesimpulan, "Tak ada cara yang lebih baik dalam meningkatkan kesehatan dan menyeimbangkan fungsi lever dengan cepat, selain dengan meminum jus tomat."

HIBRIDA

Beberapa waktu silam - tanpa sengaja - dihasilkan sejenis tomat yang mengandung antioksidan lycopene tiga setengah kali lebih banyak. Berawal dari usaha ilmuwan di Purdue University dan Pusat Penelitian Pertanian Departemen Pertanian AS untuk mengembangkan tomat yang memiliki kualitas lebih baik dan tidak mudah busuk. Setelah meneliti hasilnya, mereka menemukan tomat yang dihasilkan memiliki kandungan antioksidan lycopene lebih tinggi ketimbang tomat biasa," kata Avtar Handa, profesor horti kultur di Purdue. Ini tentu memberi harapan lebih besar dalam upaya melawan kanker.

Masih banyak lagi manfaat tomat, diantaranya:

Yang tua dan masak alami selalu berbau alkalin dan rasanya sedikit masam. Itu karena tomat memiliki kekayaan garam mineral. Mineral-mineral itulah yang merangsang aliran air liur, sehingga menambah rasa lapar sekaligus memungkinkan makanan dicerna lebih baik. Jadi, mengonsumsi tomat dapat meningkatkan nafsu makan.

Jika keseleo, jangan khawatir, sembuhkan saja dengan ramuan tomat. Caranya, blenderlah tomat, saring dan campurkan dengan minyak wijen dengan perbandingan 1 : 1, panaskan hingga tinggal minyaknya saja. Setelah itu gunakan minyaknya untuk memijat sendi-sendi yang keseleo.

Bisul pun dapat diatasi dengan tomat. Caranya, panaskan seluruh daging dan biji. Lalu taruh di atas bisul. Biasanya, bisul itu pecah tak lama kemudian, sekaligus sembuh.

Jadi, tomat tak cukup dianggap sebagai sayur atau buah, ia juga herbal.  (Intisari)

Suntik Vitamin C

Suntik Vitamin C, Bikin Kulit Halus dan Awet Muda

Gangguan sariawan kerap membuat aktivitas Ratna berantakan. Selama sakit ia jadi sedikit bicara dan tak doyan makan. Konsumsi vitamin C dosis tinggi sudah dicobanya, tapi malah membangkitkan masalah pada lambung. Namun, setelah mendapat suntikan vitamin C, keluhannya hilang. Lebih dari itu, ia merasakan kulitnya jadi lebih halus dan cerah. Jerawat yang biasanya mengganggu kini tak muncul lagi.

Cerita serupa sering dijumpai di ruang praktik dr. Tina Wardhani Wisesa, Sp.KK, spesialis penyakit kulit dan kelamin dari FK Universitas Indonesia, Jakarta. "Ada saja pasien yang pertama datang langsung minta suntik vitamin. Namun, setelah dijelaskan kegunaannya dia mengerti. Kalau mau suntik vitamin C memang sebaiknya konsultasi dulu ke dokter. Jangan sekadar ikut-ikutan," kata dr. Tina.

Selain melalui oral, vitamin C memang bisa juga dikonsumsi lewat jarum suntik. Asupan melalui injeksi ini lebih efektif dan segera terasa khasiatnya karena zat-zatnya langsung masuk ke peredaran darah. Asam askorbat dalam vitamin C memang mudah berkurang dalam proses metabolisme bila dikonsumsi secara oral.

RAJA VITAMIN

Vitamin C sering disebut sebagai "rajanya vitamin". Itu karena vitamin C memang memiliki banyak manfaat. Selain bersifat antioksidan yang mampu melawan radikal bebas, vitamin C juga berperan dalam meningkatkan sistem imun. Vitamin ini juga ikut andil pada kelangsungan berbagai fungsi biokimia tubuh. Contohnya dalam penyerapan zat besi dan menekan histamin (komponen yang terlibat dalam terjadinya reaksi alergi).

Sumber vitamin C secara alami sebetulnya banyak terdapat di sekitar kita, dari buah-buahan sampai sayuran. Meski demikian, seringkali asupan seseorang akan vitamin C masih kurang dari kebutuhan tubuh sesuai standar kecukupan gizi.

Orang dewasa sebaiknya mengonsumsi vitamin C sedikitnya 60 miligram per hari. Angka ini didasarkan pada jumlah vitamin C yang diperlukan untuk mencegah penyakit kudis secara klinis dan melindungi tubuh dari kudis selama 30 hari. Perempuan hamil dan ibu menyusui sudah tentu harus mengonsumsi vitamin C lebih besar dari jumlah tadi. Beberapa orang mengatakan bahwa dosis optimal untuk orang dewasa adalah sebesar 500 miligram sehari. Ada juga yang berpendapat cukup mengonsumsi 200 miligram sehari. Bagi orang yang tidak hidup dengan stres atau kondisi lain yang tidak sehat, dosis 500 miligram sebenarnya terlalu besar. Angka itu lebih cocok untuk mereka yang tinggal di kota besar yang penuh polusi, seperti Jakarta.

Bagi mereka yang kurang mendapat asupan vitamin melalui makanan alami, muncul berbagai produk suplemen sebagai jawabannya. Untuk orang yang bermasalah dengan pencernaan atau alergi terhadap makanan tertentu juga juga ada alternatif pilihan, yaitu dalam bentuk injeksi atau suntikan vitamin. Selain vitamin C, di Indonesia juga dikenal adanya suntik vitamin neurotropika (B kompleks). Namun saat ini menurut dr. Tina, yang paling populer di Indonesia adalah suntik vitamin C.

Sebenarnya sejak tahun 1940-an sudah dilakukan suntik vitamin C intravena (ke pembuluh darah lengan) untuk mempercepat pemulihan pasien pra dan pasca bedah. Hal ini kemudian terus berkembang, orang dengan kondisi tertentu, meski tidak menjalani pembedahan dapat memperoleh suntikan ini.

ANTIOKSIDAN

Orang kian tertarik untuk mencoba suntik vitamin C karena sifat antioksidan dari vitamin ini. Sudah dikenal luas bahwa antioksidan adalah senjata ampuh untuk menumpas radikal bebas, si molekul jomblo alias tanpa pasangan, yang hobinya merusak sel-sel sehat dan menyebabkan berbagai penyakit. Keganasan radikal bebas ini dapat dipengaruhi oleh faktor usia (tua), penyakit, pola makan buruk, polusi udara, sinar ultraviolet. Salah satu masalah yang muncul akibat ulah radikal bebas adalah terjadinya kerusakan kulit. Selain tampak kusam dan berkerut, kulit juga jadi cepat tua dan muncul flek-flek hitam.

"Suntik vitamin C, selain dapat meningkatkan kekebalan tubuh dan mempercepat proses penyembuhan, juga akan membuat kulit tampak lebih cantik dan awet muda," papar dr. Tina. Hal ini berkaitan dengan cara kerja vitamin ini, yakni antara lain menghambat kerja enzim tirosinase yang berperan dalam pembentukan pigmen. Jika kulit sering terpapar sinar matahari, enzim ini akan cepat terangsang untuk membentuk pigmen. Bila proses pigmentasi itu dihambat, otomatis kulit jadi bersih dan cerah.

Mereka yang memanfaatkan suntik vitamin ini, sebagian merasa perlu karena bermasalah dengan tukak lambung (maag) bila mengonsumsi vitamin secara oral. Mereka juga ingin lebih bugar dengan segera, karena akan menikah, melakukan perjalanan ke luar negeri, atau aktifitas lainnya yang menuntut daya tahan tubuh tinggi.

PERLU PEMERIKSAAN

Meski relatif aman, proses pemberian suntik vitamin C tidak boleh sembarangan. Selain harus dilakukan oleh dokter ahli, juga harus melalui proses screening atau pemeriksaan medis dan wawancara. "Hal ini harus dilakukan untuk menekan risiko efek samping, sekaligus demi mendapatkan manfaat secara maksimal. Sejauh ini tidak ada efek samping yang serius. Tapi, seseorang harus dipastikan tidak alergi terhadap vitamin C, dan tidak memiliki masalah dengan sistem metabolisme, seperti gangguan fungsi ginjal," katanya mengingatkan. Namun, pengguna suntikan vitamin C juga harus tetap menjalankan pola makan sehat seimbang, termasuk menjaga asupan vitamin C alami dari sumber makanan terbaik. Kunci mendapatkan kecukupan vitamin C secara ideal adalah mengonsumsinya lebih sering agar vitamin ini bertahan lebih lama di dalam tubuh. Asupan dalam jumlah kecil beberapa kali sehari, terbukti lebih efektif dalam memenuhi kebutuhan tubuh.

PEREMAJAAN KULIT

Vitamin C berjasa bagi kulit lewat dua cara utama. Ia bertindak sebagai antioksidan dan membantu pembentukan kolagen. Sebagai antioksidan, vitamin C membentuk dan memperbaiki jaringan kulit rusak akibat radikal bebas. Cara radikal bebas merusak sel-sel tubuh sama dengan proses oksigen menyebabkan kertas berubah warna menjadi kuning atau mentega menjadi tengik. "Pada kulit, oksidan menimbulkan kerusakan dan proses penuaan. Akibatnya, kulit cepat keriput," kata dr. Tina. Pasokan vitamin C sebagai antioksidan akan menghambat kerja enzim tirosinase, yang bertugas membantu pembentukan pigmen di kulit. Meski pembentukan pigmen tetap terjadi, warnanya lebih pucat. Karena itu, kulit memang tampak lebih muda dan cerah, tampak lebih putih.

Di dalam tubuh, antioksidan dibentuk lewat kerja sama vitamin A, C, E, mineral selenium, dan glutation. Vitamin A meningkatkan kerja sel darah merah hingga bisa mengobati infeksi dan luka pada jaringan tubuh. Vitamin E melindungi sel dari radikal bebas untuk memperbaiki struktur DNA yang dirusak. Selenium, bersama vitamin E, membantu menjaga kesehatan kulit, juga rambut dan mata. Glutation membersihkan radikal bebas berbahaya pada makanan berlemak. Vitamin C dan selenium dapat meningkatkan kadar glutation dalam tubuh.

Kecukupan vitamin C akan membantu pembentukan kolagen atau senyawa berisi asam amino mirip lem pengikat sel. "Zat perekat" ini menjadi bagian susunan utama jaringan penghubung seperti kulit, tulang, dan ikatan sendi tulang. Kolagen menjaga kekenyalan dan kelenturan kulit juga mendukung berlangsungnya proses hydroxylation (memungkinkan molekul mencapai bentuk terbaiknya).  (Lalang Ken Handita)

Perjanjian Pranikah

Perjanjian Prapernikahan dan Manfaatnya

Menikah bagi sebagian besar orang adalah menyatukan dua hati yang saling mencinta. Namun, ada juga yang menikah demi status, kepentingan bisnis, mendapat tempat perlindungan, dan sebagainya.

Apapun alasan menikah, sebaiknya setiap pasangan mempersiapkan diri agar tidak menemukan kesulitan setelah pernikahan itu terjadi. Apalagi dengan latar belakang pernikahan yang bermacam-macam, persiapan yang matang sangat perlu dilakukan.

Persiapan tersebut tidak hanya semata-mata untuk menyempurnakan segala macam tetek bengek demi kesuksesan seluruh rangkaian upacara pernikahan itu, tetapi yang lebih penting adalah aspek hukum untuk melindungi hak masing-masing pihak.

Salah satu hal yang penting adalah perjanjian prapernikahan. Selama ini baru sebagian kecil masyarakat Indonesia yang membuat perjanjian itu sebelum menikah. Anggapan bahwa setelah menikah segala sesuatu melebur menjadi satu membuat setiap pasangan merasa enggan untuk membuat perjanjian tersebut. Padahal, perjanjian prapernikahan itu tak hanya memuat tentang urusan harta benda, tetapi juga pembagian peran dan pengasuhan anak.

Menurut pengacara LBH APIK Jakarta, M Rezfah Omar SH, posisi perjanjian sebelum pernikahan itu lebih kuat daripada peraturan-peraturan yang ada dalam UU No 1/1974 tentang perkawinan.

"Perjanjian ini melindungi hak kedua belah pihak. Jika terjadi perceraian dan sengketa di antara keduanya, perjanjian ini bisa dijadikan pegangan untuk penyelesaiannya. Bahkan, apa yang diatur oleh UU Perkawinan bisa dikesampingkan oleh perjanjian ini," kata Omar.

Namun, perjanjian prapernikahan tersebut harus disahkan di depan pihak yang berwenang, seperti notaris atau pegawai pencatat perkawinan, agar kuat di mata hukum. Jika hanya dituliskan di atas kertas bersegel atau bermeterai, tidak akan kuat posisinya.

"Walaupun ada tanda tangan saksi, juga tidak akan kuat. Perjanjian ini mau tidak mau harus dilakukan di depan petugas yang berwenang dan disahkan sebelum atau pada waktu pernikahan terjadi," Omar menegaskan.

Perjanjian pemisahan harta, misalnya, sebenarnya bisa dilakukan tidak saja buat orang yang akan menikah. Bagi pasangan yang masih pada tahap berpacaran pun bisa membuat perjanjian ini. Seperti yang dilakukan salah seorang klien Omar, pasangan mas X (34) dan mbak Y (35), yang tinggal di daerah Kemayoran, Jakarta Pusat.

Walaupun sekarang mereka menikah, tetapi ketika mereka masih berpacaran, keduanya sepakat membuat perjanjian tentang rumah yang mereka beli bersama di daerah Bogor, Jawa Barat.

"Kami membeli rumah tersebut untuk ditempati setelah menikah. Maksudnya biar setelah menikah kami tidak lagi tinggal di rumah orangtua. Namun, karena uang kami masing-masing tidak cukup untuk membeli rumah, akhirnya kami patungan berdua," cerita Y.

Baik X dan Y menyadari, mereka membeli rumah itu ketika masih berpacaran, dan kemungkinan berpisah bisa saja terjadi. Agar keduanya sama-sama merasa tenang, mereka berdua sepakat membuat surat perjanjian di atas meterai dan masing-masing menandatanganinya. Selain itu, ibu dan adik X pun diminta ikut menandatangani surat tersebut agar lebih meyakinkan.

"Kami sengaja tidak menyertakan keluarga dari pihak saya karena rumah itu atas nama X. Jika rumah itu atas nama saya, tentu keluarga saya yang menjadi saksi. Maksudnya agar keluarga yang namanya tercantum dalam surat rumah tidak menjadi sakit hati jika rumah itu harus dibagi dua," tutur Y, yang mengaku tidak pernah terpikir untuk pergi ke kantor notaris.

Baik X maupun Y menyatakan, pada awalnya mereka sempat merasa tidak enak hati untuk membuat surat tersebut. Namun, karena status mereka yang masih berpacaran, ada pula keinginan untuk saling menjaga perasaan pasangan dan menghindari konflik-konflik berkepanjangan yang mungkin timbul. Akhirnya mereka memutuskan membuat surat perjanjian tersebut.

Surat perjanjian prapernikahan akan sangat membantu jika terjadi perceraian atau sengketa mengenai pembagian harta dan pengurusan anak. Menurut Pasal 35 UU Perkawinan, harta benda dalam perkawinan terbagi dalam tiga bentuk, yakni harta bersama, harta bawaan, dan harta perolehan.

Harta bersama adalah harta yang diperoleh setelah perkawinan dan diusahakan oleh masing-masing pihak (suami atau istri), atau usaha bersama kedua belah pihak (suami dan istri). Harta bawaan adalah harta yang dimiliki oleh masing-masing pihak sebelum perkawinan terjadi, baik berasal dari warisan, hibah, atau usaha mereka sendiri.

Adapun yang dimaksud dengan harta perolehan adalah harta yang diperoleh masing-masing pihak setelah perkawinan dalam bentuk hibah, wasiat, atau warisan. Pada dasarnya, penguasaan harta perolehan ini sama seperti harta bawaan, yakni suami atau istri berhak sepenuhnya atas harta ini.

Mengenai harta bawaan, Omar mengatakan, walau harta tersebut sudah berubah bentuk selama terjadinya perkawinan, misalnya, semula rumah lalu dijual dan dijadikan mobil, harta tersebut tetap merupakan harta bawaan. Harta itu tetap menjadi wewenang dari pihak yang membawanya.

"Harta tersebut hanya berubah bentuk, sedangkan uangnya tetap berasal dari harta bawaan."

Omar juga mengingatkan, walau telah membuat surat perjanjian prapernikahan dan ada peraturan yang melindungi, sebaiknya setiap pasangan mempunyai foto kopi dari setiap surat harta yang dimiliki.

"Dengan demikian, jika suatu ketika terjadi sengketa, masing-masing pihak bisa menunjukkan bukti harta apa saja yang mereka miliki, walau hanya berupa foto kopi," kata Omar.  (ARN)

Demam

Pasien DEMAM Jangan Diselimuti
Oleh: Prof.Dr. Iwan Darmansjah, Sp. Fk, Farmakolog



Apa yang harus dilakukan bila ada anggota keluarga terserang demam?

Pertama, ia harus istirahat. Menyelimutinya dengan selimut tebal - ini yang kerap terjadi - justru tidak dibenarkan. Udara tubuh yang panas malah tidak bisa menguap sehingga suhu akan tambah naik, dan pada anak-anak malah bisa kejang (stuip). Rasa dingin terjadi karena suhu tubuh sedang naik mendadak.

Tindakan yang paling baik adalah menyeka seluruh tubuh penderita dengan kain basah terus-menerus selama 5-7 menit. Dengan menguapnya air dan kulit, tubuh ikut didinginkan sehingga saat itu biasanya suhu tubuhnya mulai turun. Tidak baik memakai alkohol untuk tujuan itu karena alkohol akan diserap oleh kulit. Melakukan kompres hanya di kepala juga tidak efektif karena kontak permukaan terlalu kecil. Selain itu, penderita harus diberi minum banyak untuk ikut mendinginkan tubuhnya.

Demam atau panas memang gejala yang dapat berdiri sendiri atau bagian dari kumpulan gejala suatu penyakit. Demam merupakan suatu tanda penting untuk diperhatikan karena pada awalnya sering tidak atau belum dapat diketahui penyebab, dan berbahaya atau tidaknya.

Bila timbul demam, sebaiknya ukur suhu ketiak dengan termometer empat kali sehari tiap 4-5 jam. Suhu ini perlu dicatat untuk diperlihatkan pada dokter. Dokter yang nanti memeriksanya itu dapat memperoleh kesan jenis penyakitnya dari naik turunnya suhu badan. Misalnya suhu pada penyakit tifus, pada 3-4 hari pertama hanya naik malam hari sedangkan pagi panasnya hilang. Demam karena tifus, pada hari-hari awalnya hampir selalu dimulai dengan suhu yang tidak terlalu tinggi. Jadi, bila suhu badan hari pertama sudah sekitar 39-40 derajat C disertai menggigil, hampir dapat dipastikan ini bukan tifus. Tifus baru dicurigai bila demam sudah berjalan 4-5 hari atau lebih.

Demam yang pada hari pertama saja sudah mendadak tinggi, biasanya disebabkan oleh penyakit akibat virus, seperti influenza atau demam berdarah. Tentu ada banyak penyakit infeksi lain yang pola suhunya mirip tifus atau infeksi virus, namun di Indonesia dapat dikatakan 90% demam yang mendadak tinggi disebabkan oleh virus. Karena itu, demam yang sudah diderita lebih dari 2-3 hari perlu dikonsultasikan ke dokter karena perlu ditentukan penyebabnya. Di negara kita, salah satu penyebab yang sangat dikhawatirkan ialah demam berdarah yang banyak terjadi di akhir musim penghujan.

Bila pelbagai upaya awal untuk menurunkan demam tidak berhasil penderita dapat diberi obat penurun panas yang juga mempunyai sifat mengurangi rasa sakit, pegal, dan sakit kepala.

Obat pilihan pertama ialah parasetamol yang dijual dengan berbagai nama dagang. Menurut peraturan Depkes, semua obat yang dijual bebas harus menuliskan nama generik di bawah nama dagangnya yang dicantumkan di bawah "kandungan". Namun, patut diingat bila gejalanya hanya demam, tidak usah menggunakan parasetamol yang dicampur dengan bahan aktif lain, misalnya untuk pilek, batuk, dan sebagainya. Tambahan bahan lain itu selain tidak ada gunanya, juga menjadikan obat lebih mahal. Belum lagi bila menimbulkan efek sampingan.

Obat lain yang juga baik ialah ibuprofen karena efektif dan aman, namun mungkin belum begitu dikenal masyarakat. Asetosal (dikenal sebagai aspirin) tidak dianjurkan bila lambung pasien tidak tahan karena sifat asamnya. Asetosal dalam dosis 1 tablet dewasa menyebabkan darah menjadi encer sehingga perdarahan (seperti dalam haid atau terluka) akan sulit berhenti karena darah tidak dapat membeku. Asetosal juga tidak dianjurkan bila penyebab demam adalah virus (campak, cacar air, dan sebagainya), terutama pada anak karena asetosal dihubungkan dengan komplikasi fatal yang disebut Reye syndrome.

Pilihan lain yang tidak termasuk golongan obat bebas ialah asam mefenamat (kecuali yang 250 mg untuk orang dewasa) yang dikenal masyarakat sebagai Ponstan, dan dipiron (dikenal sebagai Antalgin atau Novalgin). Kedua obat ini tidak dibenarkan dibeli di toko obat atau apotek karena harus memakai resep. Seperti diketahui, kemasan obat bebas ditandai dengan lingkaran hijau atau biru, sedangkan obat resep lingkaran merah.  (Intisari)

02 Maret, 2003

Gang of Four

Sudwikatmono:
"Tidak Benar The Gang of Four Bubar"


Sore itu, pria berbatik cokelat itu berusaha terlihat segar. Padahal badannya yang hampir 70 tahun sedang payah terserang flu. Batuk tak henti menyela saat ia bertutur. Layaknya orang tua, dia bersemangat mengisahkan suksesnya di masa lalu. Sampai soal-soal kecil.

Tapi ada yang beda dari bapak empat anak ini. Dia tidak malu mengakui bahwa hidupnya ikut berkibar dengan naiknya kakak sepupunya menjadi penguasa Orde Baru. Maka dengan tahu diri, ia rela kilaunya turut meredup seiring runtuhnya kekuasaan Soeharto.

Pak Dwi, begitu pria kelahiran Solo dengan nama Sudwikatmono ini biasa dipanggil, tak terkejut bila tak ada lagi pejabat takut padanya. Saat aparat Kejaksaan menekannya dalam kasus Bank Surya, misalnya, ia tak berulah. Demi ketenangan dan nama baik, katanya mengutip nasehat istrinya Sulastri, ia lunasi utang yang menjadi kewajibannya.

Ia miris melihat sahabatnya Bob Hasan dan keponakannya sendiri dikirim ke Nusakambangan. Saat itu, nama penjara Cipinang dan Nusakambangan terus terngiang di telinganya. Itu sudah membuatnya tak bisa tidur. Maka ia lebih rela melepas Rp 1,8 triliun agar terbebas.

Di ruang tamu rumahnya yang sejuk, terletak di kompleks paling elit kawasan Pondok Indah, Jakarta Selatan, dua jam dia bercerita kepada Johan Budi S.P. dan Y. Tomi Aryanto dari Tempo News Room. Berikut petikannya:

Apa kegiatan rutin Anda sekarang?


Tak pernah berubah. Habis sembahyang subuh, menghangatkan badan. Jalan kaki satu jam keliling komplek tiga kali, hampir lima kilometer. Hobi jalan kaki. Makanya pindah ke Pondok Indah. Sempat di Simprug dulu setelah pindah dari Menteng. Istri minta saya full istirahat. Jumat-Sabtu-Minggu diganti berenang tiap kali satu jam. Sana-sini delapan kali, yang penting bergerak.

Dibanding dulu, berapa banyak berkurangnya?
Selama krisis ini drastis sekali. Dulu saya pegang Indocement dan Bogasari sebagai pimpinan teratas. Waktu itu jam enam saya sudah berangkat. Jam tujuh sudah di kantor. Sekarang santai. Jam 10.00 dari rumah, pulang jam 15.00. Jam 17.00 sudah santai tidur. Kadang ke PT Indika Entertainment jam 14.00-16.00. Sifatnya hanya mengontrol dan menasehati.

Sekarang masih mengurus apa saja?
Saya masih pegang Bogasari dan Indofood. PT Indika saya urus bareng anak-anak. Sedangkan Bank Surya sudah putus, sejak jadi kasus dengan Bambang Soetrisno.

Sebenarnya sejak kapan Anda mulai berbisnis?
Bisnis mulai 1957. Awalnya ekspor kulit yang bau itu. Sebelumnya, waktu sekolah, malah sempat jual sepeda bekas. Saya beli hanya Rp 200. Diperbaiki habis Rp 500, lalu dijual seharga Rp 1.200. Untungnya buat kuliah di Fakultas Ekonomi, UGM. Tapi lama-lama tidak sanggup. Baru tingkat dua ibu sudah sambat (mengeluh) soal biaya. Bapak sudah pensiun. Ibu hanya terima uang dari sewa kamar kos. Bahkan saya sampai satu kamar dengan anak kos. Tapi saya tidak mau minta kakak-kakak saya. Walaupun sebenarnya bisa. Saya mau cari sendiri.

Kapan bisnis mulai menggurita?
Waktu Bogasari pertama berdiri, kantornya di Jalan Asemka, Kota, Jakarta itu luasnya cuma 100 meter. Sekamar cuma isi dua meja. Padahal kami berempat. Jadi yang datang lebih pagi bisa duduk. Saya tugasnya cari izin-izin ekspor-impor. Harus nongkrong di departemen perdagangan. Pak Ibrahim Risjad ke bank cari kredit. Dia pintar lobi, karena bekas wartawan di Medan. Lalu Om Liem Soe Liong urusan finansial. Cari duit juga ke luar negeri. Dan Liem Gian atau Pak Johar Susanto juga begitu. Itulah The Gang of Four.

Kenapa Anda bagian cari izin? Apakah karena saudara Pak Harto?
(Tertawa) Ya, mungkin diambil strategisnya. Itu saya akui. Itu di mana-mana sami mawon (sama saja). Asal melalui prosedur yang logis. Tapi oleh Pak Soemitro Djojohadikusumo (Menteri Perdagangan Kabinet Pembangunan I) saya pernah dites. Saya janji ketemu jam 08.00, jam empat baru diterima.

Dulu pakai memo dari Pak Harto?
Nggak, sama sekali tidak. Saya nggak pernah lapor Pak Harto. Karena saya tahu sifatnya. Walaupun famili, harus melalui prosedur. Jangan sedikit-sedikit minta petunjuk. Saya tidak mentang-mentang.

Waktu bikin Indocement dengan Om Liem lagi? Dan Anda bagian izin lagi?
Lho, selamanya. Sampai detik ini pun belum bubar. Pada 1975 kami bangun Indocement. Jadi isu bahwa The Gang of Four bubar, itu tidak benar. Hanya beda pendapat itu wajar. Saya sudah jadi bos (tertawa) saat di Indocement. Tapi kalau kesulitan (izin), terpaksa saya telepon (Pak Harto) juga.

Masih sering ketemu Om Liem?
Pasti. Sebulan sekali kadang ke Singapura ketemu, rapat. Dia tidak berani ke sini. Takut. Padahal dia itu tidak dicekal, lho. Om Gian juga bebas. Cuma trauma. Karena rumahnya Om Liem dibakar habis sampai dokumen dan foto-foto. Kasihan kalau lihat Gunung Sahari sudah jadi arang begitu. Dia cari waktu membangun lagi. Karena dalam hatinya dia senang di sini. Di sana itu tidak ada kawan. Makanya saya sering datang menghibur. "Dwi, kapan ini ekonomi baik?" katanya. Sekarang dia lebih gemuk. Baru saja ulang tahun ke-80.

Kapan bisnis film dimulai?
Sebelum bangun Indocement dan Bioskop 21, kami bikin importir film Mandarin di Kota. Perjuangannya tidak gampang. Baru dua tahun dapat izin. Waktu ide itu saya lontarkan ke Pak Harto, dia mrengut (cemberut), "Itu sensitif. Nggak gampang. Kalau nanti diimpor dari Cina, kan mempengaruhi. PKI bisa timbul lagi." Lalu saya disuruh menghadap dua jenderal Kopkamtib (Komando Pemulihan Keamanan dan Ketertiban) yang beken kereng (sangar, menakutkan)-nya. Soemitro dan Ali Moertopo. Wah, saya dimaki-maki Pak Mitro. Waktu itu mereka berdua nggak cocok. Ternyata dua jenderal itu hanya mau minta ke Pak Harto jika pasti diterima.

Biasanya lewat Ibu Tien atau langsung ke Pak Harto?
Langsung ke Bapak. Kalau melalui Ibu Tien malah mentah. Saya pilih waktu bicara di tempat Bapak sedang rileks. Biasanya jam lima sore, dia baca koran. Kalau korannya tidak begitu hangat beritanya, saya langsung disuruh duduk ngomong. Saya sendiri merasa, walaupun dulu waktu kecil ikut ibu saya, dia sangat berwibawa.

Pakai protokoler juga?
Oh, ya. Harus lewat ajudan. Nggak bisa nyelonong saja meskipun keluarga. Kalau sedang ada tamu, paling-paling anak-anaknya. Kalau sedang bareng ibu ya mesti nunggu. Tapi kalau jam lima sore Ibu pasti sedang tidur. Saya yang harus baik pada ajudan.

Kapan masuk ke bisnis bank?
Waktu itu swalayan Golden Truly maju pesat, sampai enam outlet. Daripada uang kas kami titip ke bank lain, di Lippo dan BCA, itu kan yang senang mereka. Kalau kita punya sendiri, maka semua masuk ke grup. Tadinya saya tidak setuju karena latar belakang saya bukan di bank. Tapi akhirnya percaya, meskipun nggak mau urus. Ternyata keteteran. Karena Bank Indonesia sudah bilang tidak ada lagi bank baru, kami cari bank yang mau bangkrut untuk diperbaiki. Dapat Bank Surya di Surabaya. Benny Suherman mau ikut juga. Waktu itu ada Paket Oktober-nya Pak Sumarlin. Gampang sekali. Makanya saya setor modal cuma Rp 10 miliar di Bank Subentra. Tapi saya tidak jadi pengurus. Makanya saya tidak kena masalah di Subentra.

Bagaimana akhirnya masalah Bank Surya?
Direktur utamanya ganti tiga kali. Yang terakhir terlalu takut. Apa kata Bambang Soetrisno diikuti. Bambang membuat dan beli PT sampai 161. Semua tidak aktif. Hanya PT di atas kertas. Ada 103 perusahaan yang mengambil kredit dari Bank Surya rata-rata Rp 7,5 miliar. BLBI (Bantuan Likuiditas Bank Indonesia) kan turun terus dan diambil mereka. Semuanya rekayasa Bambang.

Kapan itu?
Pada 1996, sudah ada beberapa kali teguran. Tapi tak pernah disampaikan pada saya. Saya panggil mereka. Mereka bilang itu biasa. Katanya bank-bank lain juga begitu. Teguran itu cuma formalitas. Saya minta ketemu auditor nggak pernah bisa. Perasaan saya mulai nggak enak. Kemudian dapat surat kaleng dari karyawan. Ketahuannya saat diperiksa BPK (Badan Pemeriksa Keuangan). Bambang pernah dipanggil. Tapi dia sakit dan lalu tidak pernah kembali lagi. Jaksa Agung saya lapori temuan bahwa Bambang Soetrisno telah membobol Bank Surya sekian triliun. Supaya saya jangan disalahkan. Tapi jaksa nggak mau tahu. Saya diminta tandatangan karena pemegang saham di Jakarta cuma saya yang ada. Jadi harus tanggungjawab. Saya pikir-pikir. Lalu berunding dengan anak-istri. Semua sedih. Nggak berbuat kok disuruh menanggung. Tapi saya bilang pada mereka bahwa undang-undangnya begitu. Jaksa yang berkuasa. Lalu istri saya bilang kalau duit bisa dicari. Tapi nama harus diamankan. Karena duit kontan nggak ada, saya kumpulkan saham dan aset, lalu saya serahkan lewat program MSAA (Master of Settlement on Acquisition Agreement) itu. Saya harus kooperatif.

Untuk itu anda akan dapat surat pembebasan kan?
Ya, mudah-mudahan. Padahal kalau mau adil mestinya separuh Bambang yang harus tanggung Rp 1,8 triliun itu. Tapi dia nggak ada. Makanya diadili in absentia. Itu urusan kejaksaan, saya nggak pernah protes. Tapi ada juga yang bilang saya kongkalikong dengan Bambang.

Cara Anda menghindari konflik itu karena pengaruh filosofi Jawa?
Ya, filosofi saya itu, janganlah mencari musuh. Kalau masih mampu, atasi saja. Karena tidak mungkin pemerintah atau saya menyeret dia ke sini, ya, daripada saya yang diengkuk-engkuk (ditekan berkali-kali). Ancaman pilih mana, Cipinang atau Nusakambangan, itu terngiang-ngiang terus. Padahal orang Kejaksaan itu saya kenal baik, tapi bagaimana ya?

Atau, mungkin karena Pak Harto tidak berkuasa lagi?
Ya, mungkin. Saya rasa begitu dan mereka tahu bahwa saya kroninya. Jadi ini merupakan konsekuensi logis bagi saya. Daripada nama saya jelek, ya, istri saya bilang duit bisa dicari. Tapi nama tidak bisa.

Siapa yang Anda ajak diskusi soal-soal begini?
Anak-anak saya. Saya katakan pada mereka untuk tidak dendam pada Bambang. Itu bukan filosofi saya. Orang muslim tidak boleh dendam. Yang penting bagaimana secara hukum mengambil kembali hak.

Anda diskusi juga dengan Pak Harto?
Ah, nggak. Wong anaknya sendiri saja kena kok. Bagaimana?

Tidak minta nasehat?
Saya sudah tahu kok. Ini konsekuensi orang dagang.

Tapi masih sering ke sana?
Masih. Sebagai saudara. Nggak seperti dulu yang ada proyek atau basa-basi. Sebulan sekalilah. Karena nggak enak lho. Kalau pas ulang tahun atau selametan.

Apa topik obrolannya?
Ya, biasa keluarga saja. Nggak boleh bicara politik. Beliau orangnya nggak senang kalau misalnya kita ngomong, wah Pak Harmoko begini-begini. Kok benci sama Pak Harto kenapa ya? Nggak pernah. "Jangan jelekkan orang lain. Sudah, jangan bicara yang itu. Yang lain saja," begitu kata dia.

Berapa lama kalau ketemu akhir-akhir ini?
Nggak lama. Karena beliau itu orangnya nggak suka ngomong. Kedua, dia memang sakit saraf. Komunikasinya sulit. Saya harus tahu diri untuk tidak banyak omong. Setengah jam itu yang dipakai bicara paling sepuluh menit. Sisanya dia lihat televisi.

Katanya nggak boleh nonton televisi?
Nggak. Sekarang bebas. Marah dia. "Aku ora apa-apa (saya tidak apa-apa). Wong kritik sehat kok," katanya.

Katanya soal Tommy dia sensitif?
Ya, betul. Saya sendiri selalu dipesan Tutut, kalau bicara pada Bapak agar jangan menyinggung soal Tommy. Saya bilang ya, saya sudah tahu. Karena apa, dia itu orang yang tidak pernah menangis. Waktu Ibu Tien meninggal saja dia tatag (tabah) kok. Tapi waktu tahu Tommy dipindah ke Nusakambangan, menetes-netes air matanya. Anaknya langsung buru-buru ambil tisu. Tiap hari dia tanya bagaimana kesehatan Tommy. Kan masih bisa hubungan telepon. Tapi pasti disadap kan. Makanya bicaranya harus hati-hati.

Anda pernah menjenguk Tommy? Itu kan ponakan?
Belum (terdiam sejenak). Nanti ada ekses-ekses. Sebetulnya sudah berkali-kali ingin. Belum ada waktu saja. Nanti kalau dia sudah agak tenang. Saya dengar kabar kalau dia sering bengong. Terlihat menyesal, begitu.

Pendapat Anda terhadap kebijakan pemerintah memberi surat bebas pada konglomerat tak bertanggungjawab?
Ya, nggak fair. Kalau yang nggak bertanggungjawab, melarikan diri atau ngemplang itu ya saya tidak setuju. Istilah Jawanya di-gebyah-uyah (disama-ratakan). Mestinya harus orang yang betul-betul secara fisik, secara audit, uji tuntas keuangan melunasi sampai titik terakhir, seperti saya (tertawa). Itu nggak bisa dipungkiri. Berkali-kali diaudit, pertama oleh Glenn Yusuf, tak ada bukti saya menggunakan dana itu.

Hubungan Anda dengan Presiden Indonesia yang sekarang (Megawati)?
Baik, tetapi tidak seperti kalau antara saya dengan Presiden Soeharto (tertawa lebar). Pak Taufik Kiemas dua kali ke kantor. Tapi dia harus menjaga sebagai suami presiden. Saya juga tidak berani minta proyek. Nggak ada isu macam-macam. Nggak kayak dulu, apa-apa selalu dihubungkan.  (Koran Tempo - Minggu 2 Maret 2003)