Tampilkan postingan dengan label Unik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Unik. Tampilkan semua postingan

12 Maret, 2011

Supatra, Anak Serigala





Supatra Sasuphan gadis kecil berumur 11 tahun dari Bangkok, Thailand ini sejak lahir memiliki bulu tebal di wajah, telinga, lengan, kaki, dan punggungnya. Ia telah menjalani perawatan menghilangkan bulu menggunakan laser, tetapi bulu di tubuhnya masih tumbuh kembali.

Tadinya teman-temannya sering mengejeknya dengan sebutan si muka monyet, tetapi karena sifatnya yang periang dan baik hati, sekarang tidak lagi. Mereka malah senang berkawan dengan gadis spesial ini.

Supatra sendiri tidak merasa sedih dengan keadaannya, ia bahkan merasa senang karena menjadi terkenal diseluruh dunia setelah masuk dalam buku Guiness World Records sebagai Gadis yang Paling Berbulu di Dunia.

Tetapi orang tuanya yang berpikir jauh kedepan, tentu saja merasa prihatin dan berharap sindrom yang diderita anaknya pada suatu saat dapat disembuhkan.

Naked Wedding



Naked Wedding atau Pernikahan Telanjang adalah istilah populer di Beijing, Cina, untuk pasangan yang menikah ketika mereka belum punya rumah, mobil dan tabungan di bank, yang sekarang menjadi standar kemapanan penduduk negara komunis itu.

11 Desember, 2009

PSK dan Perubahan Iklim

Asosiasi Pekerja Seks Komersial Denmark menawarkan jasa gratis kepada peserta Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Perubahan Iklim di Kopenhagen, yang berlangsung pada tanggal 7-18 Desember 2009. Tawaran itu sebagai bentuk protes lantaran Pemerintah Kota Kopenhagen mempengaruhi hotel untuk tidak menyediakan jasa seks bagi delegasi peserta KTT.

Sebelum KTT berlangsung, Pemkot Kopenhagen menyebarkan kartu pos di hotel-hotel di kota itu berisi pesan "Be sustainable: Don't buy sex."

Tidak hanya menyebarkan kartu pos, Pemkot juga mengirimkan surat kepada pihak manajemen hotel, mengajak manajemen untuk menghindari menawarkan jasa prostitusi selama KTT berlangsung.

Para PSK, yang dilegalkan dalam hukum Denmark, pun spontan bereaksi terhadap kebijakan itu.

"Semua delegasi yang datang ke Kopenhagen untuk KTT Perubahan Iklim boleh menggunakan kartu pos Pemkot sebagai pembayaran jika memesan jasa kami melalui website," ujar jubir Asosiasi itu, Susanne Moeller.

Moeller menambahkan pihaknya tidak berharap, banyak delegasi akan memanfaatkan tawaran mereka, karena aksi itu hanyalah sebagai bentuk protes. "Kami ingin memprotes apa yang kami anggap sebagai tindakan diskriminasi."  (detikNews/AFP)

Ya iya lah, kalau banyak yang mau malah repot, memangnya mau makan kartu pos.